Mengenal Peran Deep Lying Playmaker, Sang Kreator Serangan

Mengenal Peran Deep Lying Playmaker, Sang Kreator Serangan
Ilustrasi seorang deep lying playmaker menendang bola. (Pixabay/Philip Kofler)

Mengenal peran deep lying playmaker, sang kreator serangan dalam permainan sepak bola. Mungkin sebagian dari kita belum pernah mendengar adalah istilah ini.

Mungkin selama ini kita telah mengenal peran atau berbagai posisi dalam permainan di lapangan sepak bola.

Namun tak jarang pula, banyak yang tidak mengenal peran atau posisi pemain dalam sepak bola.

Bagi yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola profesional, tentu harus mengetahui posisi atau peran dalam sepak bola.

Pengetahuan posisi pemain sepak bola ini penting karena bisa menggali potensi yang ada pada diri calon-calon pemain sepak bola itu sendiri.

Selama ini yang kita ketahui dalam permainan sepak bola adalah peran sebagai penyerang atau striker (forward), gelandang (midfilder), bek (back) dan terakhir adalah kiper atau penjaga gawang (keeper).

Dalam sepak bola, posisi penyerang, pada umumnya terbagi beberapa posisi yaitu penyerang tengah, penyerang sayap kanan dan penyerang sayap kiri serta penyerang lubang.

Pada posisi gelandang, pada umumnya terbagi beberapa posisi yaitu gelandang serang, gelandang tengah, gelandang sayap kanan, gelandang kiri dan gelandang bertahan atau jangkar.

Pada posisi bek, pada umumnya terbagi beberapa posisi yaitu bek tengah, bek kanan, bek kiri. Kemudian ada bek sayap kanan dan bek sayap kiri.

Tentunya orang banyak mengenal yang namanya kiper atau penjaga gawang. Posisi yang spesial karena boleh menggunakan tangan di area yang telah ditentukan saat bermain sepak bola.

Itulah beberapa peran atau posisi umum dalam permainan sepak bola. Namun ada satu peran atau posisi yang saat ini mulai terlupakan yaitu deep lying playmaker.

Apa itu deep lying playmaker dalam permainan sepak bola ? Yuk kita bahas

 

Mengenal Peran Deep Lying Playmaker, Sang Kreator Serangan
Ilustrasi peran deep lying playmaker. (Pixabay)

Deep lying playmaker sejatinya bukanlah peran baru dalam permainan sepakbola. Posisi ini mempunyai peran penting dalam mengatur permainan sepak bola.

Peran sebagai deep lying playmaker atau regista (sutradara) dalam bahasa Italia ini, bisa dibilang salah satu peran yang kurang dihargai.

Namun kebanyakan dari kita hanya mengingat penyerang yang mencetak gol, penyelamatan oleh kiper, aksi bertahan bek yang kokoh atau aksi pemain dalam mengolah bola dalam melewati lawan.

Deep lying playmaker merupakan seorang gelandang yang posisinya berada tepat di antara bek dan gelandang tengah.

Peran deep lying playmaker ini terbilang vital dalam permainan sebuah tim sepak bola. Perannya sangat penting saat sebuah tim sepak bola membangun serangan.

Melalui visi bermainnya, seorang deep lying playmaker memiliki tugas mengalirkan bola dari belakang ke tengah, sayap ataupun langsung ke depan.

Meskipun demikian, peran deep lying playmaker memerlukan bantuan pemain lain salah satunya bantuan dari gelandang bertahan atau gelandang jangkar.

Bantuan itu agar seorang deep lying playmaker bisa secara bebas mengarahkan permainan bola dari belakang sesuai dengan visinya.

Peran deep lying playmaker memiliki keuntungan tersendiri jika mengandalkan taktik atau formasi 4-2-3-1, 4-3-2-1, 4-3-3 atau 4-1-4-1.

Dengan formasi tersebut, gelandang bertipe deep lying playmaker ini akan mudah mengalirkan bola jika timnya mengandalkan penguasaan bola.

Peran deep lying playmaker juga memungkinkan alur serangan balik yang cepat ketika timnya merebut bola dari penguasaan bola tim lawan.

Bola akan diberikan kepada deep lying playmaker yang langsung memberikan bola lambung yang tepat kepada rekannya penyerangnya.

Visi operan tepat merupakan salah satu keunggulan gelandang bertipe deep lying playmaker.

Namun dari semua keuntungan tersebut, peran deep lying playmaker tentu memiliki kekurangan.

Kekurangan dan Kelebihan Deep Lying Playmaker

Ilustrasi peran deep lying playmaker dalam sepak bola. (Pixabay)

Bagi tim lawan yang punya kemampuan melakukan pressing tinggi dan memiliki perebut bola yang andal, tim lawan akan menjaga ketat Deep Lying Playmaker.

Tim lawan akan menyulitkan seorang deep lying playmaker untuk membangun serangan dan permainan akan buntu.

Serangan balik dari pressing tinggi bisa berbuah gol dari pola serangan yang efektif dari tim lawan.

Oleh sebab itu, jika memainkan seorang deep lying playmaker, maka ia membutuhkan rekannya yang merupakan gelandang jangkar.

Pemain jangkar itu bertugas merebut bola dari kaki lawan lalu mengoper kembali kepada rekannya seorang deep lying playmaker.

Dengan metode seperti ini, dapat melindungi deep lying playmaker. Ia akan bebas mengalirkan bola karena mendapat perlindungan.

Dalam perkembangannya era modern, seorang Deep Lying Playmaker juga memiliki kemampuan bertahan yang cukup baik.

Terutama dengan kemampuan mereka untuk membaca dan mengendalikan permainan, sehingga bisa menghentikan serangan lawan lewat intersep (memotong aliran bola) dan tekel.

Menjadi seorang deep lying playmaker tentu harus memiliki visi dan ketenangan saat menguasai bola.

Sebab deep lying playmaker bertugas mendapatkan bola dari lini belakang lalu memulai serangan dari kakinya.

Contoh pemain sepak bola profesional bertipe deep lying playmaker antara lain Jorginho, Marco Verratti, Cesc Fabregas, Andrea Pirlo, Michael Carrick, Xavi Hernandez dan Xabi Alonso.

Itu lah cerita singkat tentang peran deep lying playmaker yang saat ini mulai ditinggalkan di era sepak bola modern. (*)

Artikel ini Konten Foto rangkum dari beragam sumber

Leave a comment